Pendahuluan
Ibadah haji merupakan salah satu rukun Islam yang sangat diidamkan oleh umat Muslim di seluruh dunia. Setiap tahun, jutaan umat Islam berbondong-bondong ke tanah suci Mekkah untuk melaksanakan ibadah ini. Namun, biaya yang harus dikeluarkan untuk menunaikan haji sering kali menjadi pertimbangan utama, terutama bagi masyarakat di negara-negara berkembang seperti Indonesia dan Malaysia.
Biaya Haji di Indonesia
Pada tahun 2023, Kementerian Agama Indonesia mengusulkan kenaikan Biaya Penyelenggaraan Ibadah Haji (BPIH) menjadi Rp 98,8 juta per jemaah. Dari jumlah tersebut, sekitar 70% atau Rp 69 juta dibebankan kepada jemaah, sementara sisanya ditanggung oleh dana nilai manfaat. Usulan ini menandai kenaikan yang signifikan dibandingkan tahun sebelumnya yang hanya sebesar Rp 39,9 juta.
Subsidi Pemerintah Indonesia
Pemerintah Indonesia memberikan subsidi yang cukup besar untuk menutupi sebagian biaya haji. Dengan adanya subsidi ini, calon jemaah haji diharapkan dapat lebih terjangkau untuk melaksanakan ibadah haji.
Biaya Haji di Malaysia
Malaysia, sebagai negara serumpun dengan mayoritas penduduk Muslim, memiliki skema biaya haji yang berbeda. Pemerintah Malaysia menetapkan biaya haji menjadi dua golongan, yaitu B40 (penduduk dengan pendapatan 40% terbawah) dan non-B40 (penduduk dengan pendapatan di atasnya). Biaya haji untuk kelompok B40 adalah Rp 38,74 juta dengan subsidi sebesar Rp 62,13 juta, sementara untuk non-B40 adalah Rp 45,8 juta dengan subsidi Rp 55,07 juta.
Subsidi Pemerintah Malaysia
Pemerintah Malaysia memberikan subsidi yang sangat besar bagi jemaah haji, terutama bagi kelompok B40. Subsidi ini memungkinkan biaya yang harus dibayar oleh jemaah menjadi jauh lebih rendah dibandingkan biaya sebenarnya.
Perbandingan Total Biaya Haji
Meskipun biaya haji yang diusulkan oleh pemerintah Indonesia dan Malaysia secara keseluruhan relatif sama, yaitu sekitar Rp 100 juta, ongkos haji di Malaysia lebih besar (Rp 100,87 juta) dibandingkan dengan skema usulan Indonesia (Rp 98,89 juta). Namun, karena subsidi yang diberikan oleh pemerintah Malaysia, jemaah di Malaysia membayar jumlah yang jauh lebih kecil.
Implikasi Sosial-Ekonomi
Perbedaan biaya haji antara Indonesia dan Malaysia ini tidak hanya mencerminkan kebijakan pemerintah masing-masing negara dalam menyubsidi ibadah haji, tetapi juga memiliki implikasi sosial-ekonomi yang luas. Subsidi yang besar dari pemerintah Malaysia menunjukkan komitmen yang kuat untuk memfasilitasi umat Muslim dalam menunaikan ibadah haji, sementara di Indonesia, kenaikan biaya haji yang signifikan dapat menjadi beban bagi calon jemaah, terutama bagi mereka yang berasal dari keluarga berpenghasilan rendah.